Menilai Harga Saham Menggunakan Enterprise Value

Menilai Harga Saham Menggunakan Enterprise Value

Posted by Written on 13 September 2017


Dalam menganalisa apakah sebuah saham bisa dikatakan masih murah atau mahal, kita sering menggunakan metode PER (Price to Earning Ratio). Di mana PER membandingkan Market Cap perusahaan dengan laba bersih yang dihasilkan. Namun dalam perkembangannya ada teori lain yang mengatakan Market Cap perusahaan bukanlah nilai sebenarnya dari sebuah perusahaan. Nilai sesungguhnya sebuah perusahaan dapat dilihat dengan melihat Enterprise Value (EV) nya. Apa itu Enterprise Value (EV) ?

Sebelum kita melanjutkan mengenai pembahasan Enterprise Value (EV), saya ingin mengingatkan bahwa analisa menilai sebuah perusahaan menggunakan Market Cap dan Enterprise Value, bukanlah bersifat substitusi (saling menggantikan), melainkan bersifat komplementer (saling melengkapi).

Oke jadi, apa Enterprise Value itu? Kalau kita cari mengenai Enterprise Value di Wikipedia, perhitungannya sebenarnya cukup kompleks.

Definisi Enterprise Value (Source : https://en.wikipedia.org/wiki/Enterprise_value)

Meskipun terlihat cukup kompleks, namun kita dapat menghitung Enterprise Value dalam pengertian yang lebih sederhana. Secara sederhana, rumus Enterprise Value (EV) adalah nilai kapitalisasi pasar (Market Cap) ditambah hutang kepada bank (lembaga keuangan) dikurangi uang kas perusahaan saat ini. Atau kalau kita jabarkan rumusnya menjadi :

Enterprise Value = Market Cap + Hutang Bank – Kas

Jadi, Enterprise Value (EV) di sini tidak hanya memperhitungkan Market Cap nya saja, melainkan juga memperhitungkan hutang bank dan juga kas yang dimiliki perusahaan.

Untuk memudahkan, saya akan mencoba untuk menggunakan sebuah contoh. Misalkan perusahaan A saat ini harga sahamnya adalah Rp 500. Saat ini jumlah saham beredar nya adalah 1 miliar lembar saham, serta perusahaan memiliki uang kas Rp 40 miliar, hutang bank Rp 70 miliar. Di sisi lain, perusahaan mencatatkan net profit Rp 100 miliar, dan Cash Flow From Operation Rp 50 miliar.

Dari informasi di atas, kita dapat menghitung Market Cap nya adalah Rp 500 X 1 miliar lembar = Rp 500 miliar.Apabila kita bandingkan Market Cap Rp 500 miliar ini dengan Net Profit Rp 100 miliar, maka kita akan mendapatkan PER 5X. Artinya dalam waktu 5 tahun, investasi kita sebesar Rp 500 miliar dapat dikembalikan dari hasil keuntungan Rp 100 miliar per tahun nya.

Nah seperti dikemukakan di atas, ada pendapat lain bahwa ketika kita ingin mengambil alih perusahaan A, yaitu kita tidak hanya menikmati keuntungan Rp 50 miliar tadi. Namun, kita juga menanggung hutang kepada bank yang sudah berjalan sebelum kita mengambil alih perusahaan A tadi, serta menikmati kas perusahaan. Jadi jika PER hanya melihat dari sudut pandang laba yang akan kita nikmati, EV melengkapi nya dengan memperhitungkan pula hutang yang ditanggung dan kas yang menjadi hak kita.

Jadi nilai sebenarnya yang kita bayarkan bukan Market Cap Rp 500 miliar di atas, melainkan Rp 500 miliar + Hutang Bank Rp 70 miliar – Kas 40 miliar = Rp 530 miliar. Harga Rp 530 miliar ini lah yang disebut Enterprise Value (EV), dan EV ini lah yang kemudian kita bandingkan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan nilai tunai dari kegiatan operasional nya, atau biasa kita sebut dengan CFO (Cash Flow from Operations). Nah ternyata CFO Perusahaan A adalah Rp 100 miliar, sehingga investasi kita sebesar Rp 530 miliar dapat dikembalikan dari hasil operasi Rp 50 miliar, atau 10.6 tahun (lebih lama dari perkiraan).

Jadi di metode pertama ketika kita membandingkan Market Cap dan Laba Perusahaan (PER Ratio), kita mendapatkan imbal hasilnya adalah 5 tahun, sementara di metode kedua ketika kita membandingkan Enterprise Value dan Cash Flow from Operation, kita mendapatkan imbal hasilnya ternyata lebih lama yaitu 10.6 tahun.

Lalu, metode mana yang paling benar? Kembali lagi saya mengingatkan bahwa dua metode ini bukan bersifat substitusi (saling menggantikan), melainkan komplementer (saling melengkapi). Dan yang baru saja kita lakukan, adalah menilai sebuah perusahaan dari 2 sudut pandang berbeda. Sudut pandang pertama kita melihat dari sudut pandang pengembalian hasil investasi dari laba bersih yang dihasilkan, sementara sudut pandang kedua kita melihat dari sudut pandang pengembalian investasi dari cash flow from operation. Jadi, kesimpulannya yaa kita cari perusahaan yang menghasilkan nilai sekecil-kecil nya dari dua perhitungan di atas. Dengan kata lain yang net profit nya positif dan bertumbuh, serta arus kas operasional nya juga positif dan bertumbuh.

Hanya saja sekedar informasi, dalam praktiknya arus kas dari operasi ini bisa dikatakan lebih real, karena arus masuk dan keluar kas semua tercatat dalam rekening koran. Sementara laba bersih terkadang bisa terlihat kurang real, tergantung dari sistem pengakuan akuntansi yang digunakan. Misalkan karena target perusahaan sudah tercapai, bisa saja pengakuan laba bersih nya dialihkan ke periode selanjutnya. Atau dalam contoh yang lebih ekstrim, bisa saja ada sebuah perusahaan yang laba bersih nya positif, namun arus kas dari operasinya negatif. Nah jadi dalam hal ini kita perlu berhati-hati juga dalam melihat laba bersih sebuah perusahaan.

Semoga dengan memahami Enterprise Value ini dapat mempertajam analisa Anda dalam menilai sebuah perusahaan.


Info :

Dapatkan ringkasan Laporan Keuangan dari 500+ perusahaan di BEI serta kalkulator untuk mengetahui harga wajar sebuah saham dengan berlangganan Cheat Sheet. Untuk info lebih lanjut, silakan klik di sini.

Monthly Investing Plan September 2017 sudah terbit, Anda bisa berlangganan di sini.


comments

logo-rivankurniawan

Rivan Kurniawan

author