Dibalik Pencabutan Subsidi Minyak I:

Dibalik Pencabutan Subsidi Minyak I:

Posted by Written on 25 September 2005


Hitungan dari WC vs dari Gedung Departemen Keuangan

Imam Semar
Pengamat Ekonomi dan Pelaku Investasi, KlubSaham.Com

Ketika seorang teman saya membaca berita subsidi BBM pemerintah tahun 2005 mencapai Rp 140 trilliyun sekitar awal September lalu. Dia cuma bilang: “Aaaaah....., pang sai lu”. Saya kemudian pergi ke WC sesuai dengan anjuran teman saya. Sambil o’o’ iseng-iseng menghitung dan mengutak-atik angka yang berkaitan dengan minyak. Kalau Rp 140 triliyun (140 dengan 12 nol di belakangnya) dibagi rata ke semua bangsa Indonesia, dari bayi yang baru mbrojol sampai yang sedang sekarat, masing-masing memperoleh hampir Rp 580,000 (Jumlah penduduk Indonesia 242 juta jiwa). Banyak tuh. Bayi yang mau mbrojol tidak takut tidak bisa bayar bidan dan orang yang sekarat minta ditunda kematiannya. Mau menikmati yang Rp 580,000 itu dulu.

Dilain pihak, kalau harga BBM rata-rata Rp 2500 per liter, dan konsumsi Indonesia 1 juta BBL/hari, maka hasil penjualan BBM adalah Rp 142 triliyun. (1 BBL = 156 ltr). Kalau benar bahwa pemerintah memberikan Rp 140 triliyun, atau angka yang baru direvisi Rp 89 triliyun maka modal pemerintah untuk menyediakan BBM adalah Rp 142 + Rp 89 triliyun bukan? Atau Rp 231 triliyun. Kalau duit itu dibelikan bensin, bisa mencukupi 900 ribu BBL/hari. (asumsi harga bensin sampai di tingkat ritel $ 70/BBL). Jadi hampir semua BBM kita import. Mana yang produksi sendiri???. “Aaaaaah, pang sai! Kena tipu semua”. Ternyata tidak perlu komputer canggih untuk mengetahui kebohongan pemerintah. Cukup dengan hitungan di WC.

comments

logo-Imam_semar

Imam_semar

author